Selasa, 10 April 2012

GORESAN

dentuman elegi sayup-sayup
terlihat dari sukmamu
menembus lubang hitam
dalam hatiku


mencerna dan mencerca 
goresan tinta kepedihan
menggapai awan mendung
akan kepalsuan


kemana harus ku bawa raga ini?
satu persatu ayat cinta ku lantunkan
tapi yang terbaca hanya kemunafikan


Gerlong, 250711

LETIH

bayang-bayang yang ku lewati 
hanya segumpal asap kerongkonganmu

seperti asap rokok
menjalar liar dalam mulutmu
dan berpijak di parumu

menggumpal hitam
sehitam arang 
berhembus di
sepanjang jalan rumahku

semua bentuk bayang-bayang
menggumpal dalam sepion masa lalu
mereka terus merontai ubun-ubun

sekeji itukah bayang-bayang asap
pagi itu?

Bandung, 030511

P U R N A M A

ku tatap cermin dihadapku
dalam samar terlihat cahaya purnama
semakin ku pandang
semakin cepat ia memudar

ku tatap ulang cermin itu
ku raih 
tapi menjauhiku

ku hirup bayang-bayang purnama itu
ku mulai menggenggamnya
tapi ku mulai ragu

apakah itu cahaya purnama yang ku dambakan?
atau hanya seonggok sabit luka?

semakin pudar
semakin pudar
semakin P U D A R

TEGAR

melati dalam sangkar
melilitkan aroma bercinta burung dara
menahan langkah-langkah
yang kan pergi meninggalkan jagat


melati dalam sangkar
takan mudah teraba
oleh pengkhianat
yang kan meracuninya


melati dalam sangkar
tetap kokoh walau angin mengguncangnya
walau kekasihnya enggan memeluknya


ia tetap menyebarkan benih cinta
langit pun ingin menghirup aroma nafasnya
walau badai tetap menerpa wajahnya


melati dalam sangkar
melati dalam sangkar


Bandung, 240411
@07.45am

EGO

cahaya pagi timbul dari matamu
cahaya itu meresap dalam denyut langkahku 

cahaya malam yang kau rindukan
akan kau temukan dalam bibirku
ucapmu di pagi itu

cahaya, cahaya
apakah benar cahaya itu ada dalam tubuhmu?

cahaya,cahaya
apakah cahaya itu nyata
setelah kau biaskan mega hitam padanya

redup
kau takkan redup
tapi cahaya hatimu
kan redup seiring waktu

bandung, 240411