Kamis, 27 Agustus 2015

IBU DALAM KALIMAT



Herawati Murti Gustiani
Bandung, 20  Agustus 2015


Menurut KBBI kalimat adalah kesatuan ujar yang mengungkapkan suatu pikiran dan perasaan. Kita dapat memahami apa yang dirasakan pembicara setelah ia melakukan ujaran dalam bentuk kalimat-kalimat. Bahasa lisan terkadang tidak harus mematuhi aturan-aturan sintaksis karena bahasa lisan melibatkan pralinguistik. Berbeda dengan bahasa tulis. Jika kita menuangkan kalimat dalam bahasa tulis,  maka kita harus menulis kalimat sesuai kaidah sintaksis. Lalu unsur inti apa saja yang ada dalam kalimat?

Mungkin bagi kalian masih bingung mengenai penempatan subjek,predikat, objek, pelengkap, atau keterangan dalam sebuah kalimat. Bagini, anggap saja kalimat itu adalah sebuah keluarga. Anggota keluarga terdiri dari ayah, ibu, adik, keponakan, sepupu, dan lain-lain. Namun, siapakah inti dalam keluarga? Tentu saja ayah dan ibu. Jika direliasikan dalam bentuk kalimat, ayah berperan sebagai subjek dan ibu berperan sebagai predikat. Artinya, kumpulan kata dapat disebut kalimat jika terdiri dari subjek dan predikat. Sedangkan objek, pelengkap atau keterangan dapat kita anggap sebagai anak, sepupu, keponakan, cucu, dll. Jadi, itu semua berfungsi sebagai penjelas saja. Untuk lebih jelasnya, perhatikan contoh berikut ini.

Contoh kalimat:
(a)    Dia berenang.
(b)   Saya makan.
Penjelasan:
Subjek pada poin (a) terletak pada kata dia sedangkan predikat terdapat pada kata berenang. Sedangkan pada poin (b) subjek terletak pada kata saya dan predikat terletak pada kata makan. Lalu, manakah inti kalimat itu? subjek atau predikat? Sebelumnya perhatikan contoh berikut.
Tepat pukul 07.00 Karin membeli buku dan bergegas menuju toko buku.
                Setelah kita perhatikan, kalimat di atas memiliki dua subjek dan predikat lebih dari satu. Hal inilah yang dinamakan klausa. Agar lebih paham, lebih baik kita analisis unsur kalimatnya.
Tepat pukul 07.00 Karin membeli buku dan bergegas menuju toko buku.
Klausa satu                 konjungsi             klausa dua 
(a)    Klausa satu = Tepat pukul 07.00 Karin membeli buku.
unsur inti    = tepat pukul 07.00  à keterangan
                          Karin       :subjek
                          membeli   :predikat
                          buku        :objek

(b)   Klausa dua = bergegas menuju toko buku

Mengapa klausa kedua tidak mengandung subjek? Manakah yang termasuk predikat? Jika kita menalar klausa kedua, yang bergegas menuju toko buku adalah Karin sehingga tidak perlu mengulang subjek. Kemudian yang dicurigai unsur predikat ada dua kata, bergegas dan menuju. Cara termudah mencari predikat adalah dengan menghilangkan kata tersebut. Sebuah kalimat, jika tidak ada predikat maka akan menjadi kalimat yang tidak efektif. Agar lebih jelasnya, mari kita hilangkan satu persatu kata bergegas dan menuju pada kalimat di atas.
(a)    Tepat pukul 07.00 Karin membeli buku dan bergegas toko buku.
(b)   Tepat pukul 07.00 Karin membeli buku dan menuju toko buku.

Kalimat (a) kata menuju dihilangkan sedangkan kalimat (b) kata bergegas dihilangkan. Manakah yang membentuk kalimat yang efektif dan bermakna? Ya, tentu saja kalimat (b). Unsur predikat tidak dapat dihilangkan dan jika dihilangkan akan mengubah makna. Jadi, predikat memiliki peran yang sangat penting dalam kalimat. Sama pentingnya seperti seorang ibu, bukan?

Semoga bermanfaat :)


Ikhtisar dari praperkuliahan S2 SPs UPI 2015
Pemateri: Bu Yeti

Senin, 30 Maret 2015

Ikhlas Tuk DItemukan dan Disatukan dengan Seseorang yang Allah Ridhoi

Jika dia mencintaimu, dia tidak akan membuatmu menunggu.
Jika dia mencintaimu, dia hanya akan memberimu 1 kepastian:

Menikahimu atau Mengikhlaskanmu....

Dan harus kamu ingat satu hal, saling melepaskan sekarang, saling mengikhlaskan sekarang belum tentu tak kan bersatu.

Jadi jangan terjebak pada hal yang Allah tak sukai hanya karena kalian dihinggapi perasaan takut kehilangan. Padahal kapasitas diri sama sekali belum siap untuk masuk dalam jenjang pernikahan. Bisa salah satunya belum siap, atau...Dua-duanya belum siap. Salah satu atau salah duanya...Gak boleh saling menggantung dan bergantung. Segera putuskan, segera ambil kepastian...

Nikahi saya...Atau Ikhlaskan saya...

Pengalaman saya pribadi, yang dilepaskan / diikhlaskan ternyata dengan skenarioNya dimasa depan Allah pertemukan kembali, dan akhirnya Allah persatukan...Dalam kondisi - waktu yang lebih tepat...Dalam kondisi lebih baik, lebih siap...

Lalu bagaimana kalau tidak dipertemukan / tidak dipersatukan? Nah, yakinlah Allah ganti dengan yang lebih baik. Keyakinan itu yg harus kita bangun...Tanda kita hanya berharap bergantung pada Allah...Tanda kita lebih mencintai Allah daripada makhluk... Ini jalan satu-satunya kalau hati kita ingin merasa damai tenang bahagia dan tak terpenjara oleh masa lalu, tak bergantung pada makhluk.

Sulit? Sesakk?? Memang begituu....Awalnya sulit, tapi kalau nggak ikhlas itu sakitt...Jadi lebih baik berproses melewati kesulitan daripada terus-terusan menahan sakit.

Saya berkata seperti ini karena saya mengalami...Mengalami melewati sesaknya...Mengalami melewati sakitnya perasaan karena takut kehilangan. Hingga satu titik setelah berusaha menerus mendekat padaNya...Saya hanya mengharap cinta dan ridhoNya saja...

Disitulah justru keajaiban terjadi...Hidup menjadi lebih produktif....Karena hati kita bebas dan bahagia...Disitulah radar kita telah aktif. Radar hati yg siap menerima ketentuanNya....Sampai akhirnya skenarioNya berjalan dengan indah!

Dipertemukan dan dipersatukan dengan seseorang yg Allah ridhoi...Ya, dia bisa saja seseorang yg dari masalalu kembali, bisa juga seseorang yg baru kita temui dimasa ini atau masa depan. Siapapun dia percayalah...Allah lebih tahu daripada kita...Dan hati kita siap menerimanya dengan bahagia.

Mari belajar menerima takdirNya, mensyukuri jalan cerita hidup kita, demi cintaNya...demi ridhoNya.

Believe skenarioNya yg terindah, pilihanNya yg terbaik!

‪#‎CintaDalamIkhlas‬

--------------------------------------------------------------
Image courtesy: pinterest.com
Text : Kang Abay Motivasinger
Via : berdakwah.net

Sabtu, 14 Maret 2015

14 Maret 2015

"HAPPY BIRTHDAY"

Selamat ulang tahun semoga panjang umur, sehat selalu, tambah dewasa, dan semakin sukses. Amiin

Senang rasanya selama 3 tahun terakhir ku bisa melihatmu bertambah usia. Ingat rasanya saat ku pertama kalinya memberikanmu sebuah hadiah. Saat itu dicuaca seperti ini (hujan), jas hujan yang kau gunakan sungguh mengkhawatirkan. Rasanya seperti melihat tukang ojek hahaaha. Ya, itulah hadiah pertamaku untukmu. Aku pun pernah memarahimu karena kau pernah meminjamkannya pada temanmu hingga membuatmu menangis hihi. Yah walaupun ternyata kau tak bisa menjaga hadiah pemberianmu dengan baik.  Kecewa sih, tapi yasudahlah toh itu hak mu. Dulu aku membeli hadiah tersebut dari uang sakuku selama satu bulan. Dulu kan aku ngekos jadi agak eungap juga wkwk. Tapi kau sangat pengertian dan peka saat itu. Selama satu bulan kau menanggungi segala kebutuhanku. Kau sudah seperti emak2 yang khawatir pada anaknya haha.

Di ultahmu yang kedua... Hmm (aku sejenak lupa memberikanmu apa)
Aku memberimu sebuah jam tangan berwarna hijau dan di jam itu terdapat stopwatchnya. Saat itu kau sangat sangat sangaaatttt fokus pada latihan atletikmu. Bahkan terkadang kau tidak menganggapku ada. Sakitnya tuh disiniiii (nunjuk hati) *singlikeCitaCitata. Kau membutuhkan jam itu untuk mengukur kecepatan waktu saat kau latihan lari.

Dan ultahmu yang terakhir.. Jujur saja ini kado yang termurah yang pernah aku berikan untukmu haha tapi untungnya dompet yang ku berikan bermerek "e*ger" jadi agak keren dikit kan.. Aku membelikanmu dompet karena dompetmu sangat lusuh banget dan pikawatireun pisan. Warna dompet itu adalah warna kesukaanku (coklat). Aku sangat memaksamu untuk menggunakannya. Mungkin kau ingat saat kita tertawa bersama memindahkan semua isi dari dompet lamamu ke dompet yang baru. Aku pun senang karena kau masih menyimpan fotoku. Foto itu ku berikan saat kita pertama kali jadian :)

Saat ini ku harap kau slalu bahagia di setiap ultahmu, dengan siapa pun kau merayakannya. Aku selalu menginginkan kau selalu tersenyum. Ini mungkin terakhir kalinya aku memberikanmu selamat di hari ultahmu. Kebahagiaan dan kesedihan selama tiga tahun terakhir akhirnya tlah berlalu dan menjadikannya sebuah kenangan. Walaupun kini ku telah melupakan perasaan di hari itu.
WUATB

Bandung, 14 Maret 2015
(dengan sesimpul senyuman dan tanpa air mata)